peritonitis

All posts tagged peritonitis

PERITONITIS

Published 11 Oktober 2012 by Midwife Rizqi Dyan

BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Masa nifas merupakan proses alamiah dan normal. Masa ini adalah salah satu fase dalam kehidupan wanita pada masa reproduksi. Wanita akan mengalami sekali,dua kali, bahkan berkali-kali hamil dan bersalin dan nifas dalam kehidupannya. Dan setiap proses persalinan mempunyai pengalaman yang berbeda-beda pada 2-6 jam post partum.
Nifas juga melibatkan aspek fisik dan psikis, wanita akan mengalami perubahan dari keadaan setelah melahirkan. Pada beberapa ibu nifas keadaan tersebut berlangsung secara normal. Namun, ada beberapa ibu yang mengalami hambatan dan gangguan dalam menghadapi proses masa nifas tersebut.
Oleh karena itu asuhan Post Natal Care harus diberikan dengan baik untuk mengetahui komplikasi lebih dini.
Infeksi masa nifas (post partum) merupakan penyebab kematian pada ibu yang kedua (terpenting) , kematian dalam pasca persalinan karena infeksi uterus. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat menjadi abses pelvik, peritoritis, syok septik, thombosis vena dalam embon pulmonal, infeksi pervik menahun, dispereunia, penyumbatan pada tuba dan infertilitas.
Yang sangat erat hubungannya dengan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang berorientasi pada klien. Secara keseluruhan bagian ini diharapkan menjadi acuan untuk asuhan antenatal dan persalinan dasar.

TUJUAN
Umum
Mahasiswa dapat memberikan asuhan Post Natal Care dengan Peritonitis
Khusus
- mahasiswa memahami dan mengerti tentang pengertian asuhan Peritonitis
- mahasiswa dapat mengenal tanda – tanda dan Gejala Peritonitis
- mahasiswa mengetahui komplikasi yang dapat ditimbulkan pada pasien dengan Peritonitis
- mahasiswa mengetahui cara mengatasi pertolongan pertama pada pasien peritonitis

II. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I
Pendahuluan
1. Latar belakang
2. Tujuan
Tujuan Umum
Tujuan khusus
3. Sistematika penulisan
BAB II
Landasan teori I : Peritonitis
Pengertian Peritonitis
1. klasifikasi Peritonitis
2. Tanda& Gejala Peritonitis
3. Etiologi
4. Patofisiologi
5. Komplikasi
6. Penatalaksanaan

DAFTAR PUISTAKA
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN TEORI
1. pengkajian data
2. diagnosa
3. identifikasi masalah potensial
4. identifikas kebutuhan segera
5. rencana intervensi
6. implementasi
7. evaluasi

PERITONITIS

I. PENGERTIAN
• Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum).
( http://.medicastore.askep_peritonitis//10/Oktober:2007.html)
• Peritonitis adalah infeksi puerperalis yang melalui jalan lympha yang menjalar ke peritoneum(R.scoot,james. 2002:248)
• Peritonitis adalah peradangan pada semua bagian peritonium. Ini berarti baik perritoneum parietal, yaitu membran yang melapisi dinding abdomen, mauoun peritoneum viseral, yang terletak di atas visera atau organ-organ internal, meradang. ( WHO.2002:63)
• Peritonitis adalah peradangan peritoneum yang disebabkan oleh mikoorganisme yang masuk melalui aliran darah saluran genetal atau melalui lumen saluran cerna. (Wahidi.1993:846)
• Peritonitis adalah peradangan membran serosa rongga abdomen dan organ-organ yang terkandung didalamnya
(http://.medicastore.pengertian_peritonitis//08/Oktober:2007.html)
• Peritonitis adalah suatu respon inflamasi atau supuratif dari peritoneum yang disebabkan oleh iritasi kimiawi atau invasi bakteri.
( http://. majalah-farmacia.peritonitis//02/Oktober:2006)
• Peritonitis adalah infeksi yang terjadi karena meluasnya endometritis tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingopharitis dan sellulitis pelvica. Selanjutnya kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelvica mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum sehingga menyebabkan peritonitis.( Prawirohardjo,Sarwono.2005:451)
• Peritonitis adalah peradangan peritoneum ynag jika meluas dapat menimbulkan komplikasi yang fatal dan eksudat fibrinopurulen yang khas akan menimbulkan perlekatan usus, dan di antara gelung usus yang saling melekat itu dapat terbentuk gumpalan-gumpalan nanah
(F. Gary Cunninghm ,1995:543)bagai sumber:
• Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh mikroorganisme/infeksi pada selaput rongga (peritonium) yang masuk melalui aliran darah saluran genital atas melalui lumen saluran cerna dan juga bisa terjadi karena meluasnya endometritis tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingopharitis dan sellulitis pelvica.

II. KLASIFIKASI PERITONITIS
Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Peritonitis bakterial primer [Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP)]
Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Penyebabnya bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Sreptococus atau Pneumococus. Peritonitis bacterial primer dibagi menjadi dua, yaitu:
1.Spesifik : misalnya Tuberculosis
2.Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis an Tonsilitis
Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi, keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi
Biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang-kadang terjadi pula penyebaran hematogen jika telah terjadi bakteremia. Sekitar 10-30% pasien dengan sirosis dan asites akan mengalami komplikasi seperti ini. Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Hal terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Coli 40%, Klebsiella pneumoniae 7%, spesies Pseudomonas, Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%, jenis Streptococcus lain 15%, dan golongan Staphylococcus 3%, selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri.

b. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa)
Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Bakterii anaerob, khususnya spesies Bacteroides, dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi.Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. Kuman dapat berasal dari:
1. Luka/trauma penetrasi, yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal.
2. Perforasi organ-organ dalam perut, contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan kimia, perforasi usus sehingga feces keluar dari usus.
3. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal, misalnya appendisitis.

c. Peritonitis tersier
Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat, bukan berasal dari kelainan organ, pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Selain itu juga terdapat peritonitis TB, peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia, misalnya cairan empedu, barium, dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn).

III. ETIOLOGI
Peritonitis biasanya disebabkan oleh :
1. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi.
Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, usus, kandung empedu atau usus buntu.
Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus, tidak akan terjadi peritonitis, dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati.
2. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual
3. Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman (termasuk yang menyebabkan gonore dan infeksi chlamidia)
4. Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bisa berkumpul di perut (asites) dan mengalami infeksi
5. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan.
Cedera pada kandung empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus.
6. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis.
Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut.
7. Iritasi tanpa infeksi.
Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi.
8. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia, misalnya cairan empedu, barium, dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (mis. Penyakit Crohn) tanpa adanya inokulasibakteri di rongga abdomen
Penyebab peritonitis
Area sumber Penyebab
Esofagus Keganasan
Trauma
Iatrogenik
Sindrom Boerhaave
Lambung Perforasi ulkus peptikum
Keganasan (mis. Adenokarsinoma, limfoma, tumor stroma gastrointestinal)
Trauma
Iatrogenik
Duodenum Perforasi ulkus peptikum
Trauma (tumpul dan penetrasi)
Iatrogenik
Traktus bilier Kolesistitis
Perforasi batu dari kandung empedu
Keganasan
Kista duktus koledokus
Trauma
Iatrogenik
Pankreas Pankreatitis (mis. Alkohol, obat-obatan, batu empedu)
Trauma
Iatrogenik
Kolon asendens Iskemia kolon
Hernia inkarserata
Obstruksi loop
Penyakit Crohn
Keganasan
Divertikulum Meckel
Trauma
Kolon desendens dan apendiks Iskemia kolon
Divertikulitis
Keganasan
Kolitis ulseratif dan penyakit Crohn
Apendisitis
Volvulus kolon
Trauma
Iatrogenik
Salping uterus dan ovarium Pelvic inflammatory disease
Keganasan
Trauma

IV. TANDA dan GEJALA
 Nyeri abdomen akut dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritonium viseral) kemudian lama-kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritonium parietal)
 Demam tinggi,hipotermi, takhikardi, dehidrasi, hingga hipotensi
 Dinding perut tegang, kaku dan tanpa bunyi
 Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlekatan adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus
 Gerakan peristaltik usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar, abdomen tegang (muscular defence)
 Dehidrasi
 Muntah
 Pasien tampak sangat kesakitan
 Nyeri tekan, nyeri lepas
 Bila nafas dalam keluhan sakit meningkat
 Satu/beberapa abses
 Abdomen berdistensi 3 -4 hari
 Facies hipocratica

V. DIAGNOSIS
a. Gambaran Klinis
Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis, berat peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. Peritonitis dapat lokal, menyebar, atau umum.
1. Peritonitis Bakteri Primer
 nyeri abdomen
 demam
 nyeri lepas tekan
 bising usus yang menurun atau menghilang
2. Peritonitis Bakteri Sekunder
 adanya nyeri abdominal yang akut
 nausea
 vomitus
 syok (hipovolemik, septik, dan neurogenik)
 demam
 distensi abdominal
 nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang local
 difus atau umum
 dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang
3. Peritonitis bakterial kronik (tuberculous)
 adanya keringat malam
 kelemahan
 penurunan berat badan
 distensi abdominal
4. Peritonitis granulomatosa
 nyeri abdomen yang hebat
 demam
 dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu
b. Pemeriksaan Toucher
Pada penderita wanita diperlukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatory disease, namun pemeriksaan ini jarang dilakukan pada keadaan peritonitis yang akut.
Terlihat teraba tahanan yang kenyal yang berfluktuasi dalam kavum douglasi dan nyeri tekan

c. Pemeriksaan Laboratorium
 Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis, hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik.
 Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit; basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur.
 Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat
 The International Ascites Club (IAC) merekomendasikan dilakukannya parasentesis (pungsiasites) pada penderita sirosis hepatik yang disertai dengan asites. Diagnosis PBS dapat ditegakkan bila dijumpai hasil
 Hitung sel polimorfonukleus (PMN) > 250/mm3
 Lekosit > 300/mm3 (terutama granulosit)
 Protein 43 mmol/L
 Aktivitas protrombin < 45
d. Pemeriksaan X-Ray
Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis; usus halus dan usus besar berdilatasi. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi
VI. DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding dari peritonitis adalah apendisitis, pankreatitis, gastroenteritis, kolesistitis, salpingitis, kehamilan ektopik terganggu

VII. TERAPI
1) Penggantian cairan Elektrolit Intravena (NaCL atau RL)
Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme pertahanan. Keluaran urine tekanan vena sentral, dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi

2) Pemberian antibiotic yang sesuai (selama 24 jam)
 Ampisilin 2 g IV, kemudian 1 g setiap 6 jam, ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan IV dosis tunggal/hari dan metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam.
Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik, dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan, karena bakteremia akan berkembang selama operasi

3) Dekompresi saluran cerna dengan penghisapan NGT dan intestinal
Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan, karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum, dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terus-menerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi

4) Pembuangan focus septic/penyebab peradangan lain dilakukan dengan laparatomi
Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Jika peritonitis terlokalisasi, insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Pada umumnya, kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup, mengeksklusi, atau mereseksi viskus yang perforasi.
Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus, yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Bila peritonitisnya terlokalisasi, sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum, karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain

VIII. KOMPLIKASI
Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder, dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut, yaitu:

a.Komplikasi dini
 Septikemia dan syok septic
 Syok hipovolemik
 Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system
 Abses residual intraperitoneal
 Portal Pyemia (misal abses hepar)

b.Komplikasi lanjut
 Adhesi
 Obstruksi intestinal rekuren

ASUHAN KEBIDANAN
PADA IBU P…….. dengan PERITONITIS

I. PENGKAJIAN
A. DATA SUBJEKTIF
1. BIODATA
Nama :
Umur : biasanya terjadi pada wanita usia reproduktif
Pekerjaan : Untuk mengetahui taraf hidup sosial ekonomi yang berhubungan dengan nutrisi
2. KELUHAN UTAMA
Ibu mengatakan Post SC (dengan jahitan yang tidak jadi atau mengalami kebocoran), post curret, operasi tumor kandungan atau kista.
3. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
Ibu mengatakan sekarang sedang menderita penyakit Hati, Post SC (dengan jahitan yang tidak jadi atau mengalami kebocoran)
4. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU
Ibu mengatakan pernah mengalami penyakit kelamin(GO dan chlamidia) dan PID (salpingitis,endometritis, adeneksitis, miometritis
5. RIWAYAT PERKAWINAN
Biasanya terjadi pada wanita yang menikah lebi dari satu kali/gonta-ganti pasangan sehingga biasanya terjadi infeksi lebih besar.
6. RIWAYAT KEHAMILAN ,PERSALINAN DAN NIFAS
 Biasanya terjadi pada perslinan dengan pertolongan dukun atau dengan pertolongan nakes namun alat tidak steril
 Terjadi komplikasi pada saat persalinan (retensio plasenta, atonia uteri) sehingga dilakukan tindakan dengan memasukkan alat2 di jalan lahir atau alat yang digunakan tidak steril
 Biasanya setelah melakukan post curret atau post CS
7. RIWAYAT KB
ibu pernah menjadi aseptor KB IUD
8. POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI
• Istirahat
Penderita peritonitis mengalami :letih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas.
• Nutrisi
Tejadi perubahan pola nutrisi : nafsu makan menurun, hilang karena nausea/ muntah
• Eliminasi
Pasien mengalami penurunan berkemih, BAB tidak teratur(lebih lam dari biasanya)
• Hygiene
Kelemahan selama aktivitas perawatan diri
• Seksual
Biasanya pada wanita yang terkena infeksi (PID) masih aktif berhubungan seksual dan pada wanita yang bergonta-ganti pasangan

B. DATA OBYEKTIF
1) Pemeriksaan umum
KU : dijumpai keadaan Pasien tampak sangat kesakitan sampai syok

Kesadaran : kesadaran penderita bervariasi dari kesadaran baik hingga koma misal:Composmentis [keadaan normal], apatis [acuh tak acuh],absence[ melamun,hilang ], tergantung tingkat kesakitan
Tanda-Tanda Vital :
Pada kasus peritonitis
TD = mengalami hipotensi,( 36,50 C
BB : dijumpai adanya penurunan berat badan
2) Pemeriksaan fisik
Muka
Dijumpai keadaan bervariasi dari keadaan normal pucathingga anemis atau syok
Mata
Konjungtiva : normal  pucat(kemungkinan anemis)
Sclera DBN
Mata terlihat cekung (kemungkinan dehidrasi)
Bibir
Warna merah  pucat (kemungkinan anemis)
Lembab  kering (kemungkinan dehidrasi)
Dada
C/P DBN  sesak
Abdomen :
Pemeriksaan abdomen
Perut terlihat lebih besar dari normal
Adanya bekas jahitan yang tidak jadi/mengalami kebocoran
Nyeri tekan lepas
Dinding perut tegang dan kaku seperti papan
Bising usus hilang/tidak terdengar
Genetalia
Dilakukan Pemeriksaan Tuocher
Teraba tahanan yang kenyal yang berfluktuasi dalam kavum douglasi dan nyeri tekan
Ektremitas
Teraba hangat samapi panas karena biasanya pasien demam
Teraba kulit kering dan lecet
Pemeriksaan Auskultasi abdomen
Bising usus hilang/ tidak terdengar

3) Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
 Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis, hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolic, LED dengan dilakukan tes darah lengkap
 Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit; basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur.
 Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat
b. Pemeriksaan X-Ray
Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis; usus halus dan usus besar berdilatasi. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi

II. INTERPRETASI DATA DASAR
Dx : Pada ibu P…..post SC dengan nyeri abdomen akut
Ds : Ibu mengatakan telah melahirkan anaknya yang ke….. pada hari ke…..dengan opersi, mengeluh nyeri perut,perut terasa kembung, mual-muntah, nafsu makan menurun, demam, sesak nafas
Do : KU : lemah
Kesadaran : composmentis  apatis
TTV
TD = mengalami hipotensi,( 36,50 C
BB : dijumpai adanya penurunan berat badan
Abdomen
Pemeriksaan abdomen :
• Perut terlihat lebih besar dari normal
• Adanya bekas jahitan yang tidak jadi/mengalami kebocoran
• Nyeri tekan lepas
• Dinding perut tegang dan kaku seperti papan
• Bising usus hilang/tidak terdengar

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
Syok (hipovolemik, septic, neuroghenik)

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
1. pasang infus RL
2. berikan O2 + 2 atm atau sesuai kebutuhan dan sesuai advis dokter
3. kolaborasi dengan spesialis Obgyn
4. rujuk

V. RENCANA INTERVENSI
1. Jelaskan ibu tentang keadaanya
R/ ibu dapat mengetahui keadaanya sehingga ibu lebih kooperatif
2. Pasang infus dan berikan cairan RL
R/ memperbaiki kondisi umum menjadi lebih baik dan rehidrasi
3. Observasi tekanan darah , suhu , nadi dan pernafasan
R/ sebagai deteksi dini terjadinya komplikasi
4. Infomed consent untuk dilakukan rujukan
R/ bukti otentik persetujuan dilakukan rujukan
5. Lakukan persiapan rujukan
R/ memudahkan melakukan tindakan saat merujuk

VI. IMPLEMENTASI
Melaksanakan kegiatan dari Intervensi yang telah dilakukan sesuai dengan kebutuhan Ibu

VII. EVALUASI
EVALUASI
Evaluasi di RS (POLKAN)
Jam : Tanggal :
S : – Ibu mengatakan masih terasa nyeri perut ibu, badan lemas
O : – kondisi ibu lemah
- TTV :
TD: 85/65 mmhg N: 80 X/mnt rr: 24 kali/mnt S:37,8 0C
Pemeriksaan abdomen
• Perut terlihat lebih besar dari normal
• Adanya bekas jahitan yang tidak jadi/mengalami kebocoran
• Nyeri tekan lepas
• Dinding perut tegang dan kaku seperti papan
• Bising usus hilang/tidak terdengar
A : Pada ibu P…….. post SC dengan nyeri abdomen akut
P : - lakukan pemeriksaan darah lengkap
- lakukan pemeriksaan X- Ray
- teruskan pemberian cairan infus
- observasi TTV

Catatan perkembanga di (POLKAN)
Jam : Tanggal :
S : – Ibu mengatakan masih merasakan nyeri perut
O : – kondisi ibu lemah
- TTV :
TD: 85/65 mmhg N: 80 X/mnt rr: 24 kali/mnt S:37,8 0C
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis, hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolic, LED meningkat
Pemeriksaan X-Ray
Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis; usus halus dan usus besar berdilatasi. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi
A : Ibu P…….post SC dengan Peritonitis
P : – lakukan informed consent pada ibu untuk MRS
- lakukan kolaborasi dengan dokter Obgyn untuk pemberian terapi dan tindakan
Selanjutnya

DAFTAR PUSTAKA

• Fakultas Kedokteran UNAIR.1983.Penanganan Kasus Patologi Obstetri.Surabaya :BRATA.D
• Fakultas Kedokteran UNPAD.1984.Obtetri Patologi.Bandung:Elstar OFFset
• F. Gary Cunninghm.1995. Obstetri Williams. Jakarta :EGC
• Heler,Luz.1986.Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Jakarta: EGC
http://medlinux.blogspot.com/2007/09/peritonitis.html
http://. majalah-farmacia.com/peritonitis//02/Oktober:2006.html
http://.medicastore.com/pengertian_peritonitis//08/10/2007.html
http://.medicastore.com/askep_peritonitis//10/Oktober:2007.html
• Wahidi, Kemala Rita.1993. Standart ASKEP di Instalasi Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Jakarta:EGC
• Mochtar,Rustam.1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1 : Jakarta: EGC
• M. Wilson, Lorraine.1994.Patifisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC
• Prawirohardjo,Sarwono.2005.Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP- SP
• R.Scoot,James,dkk.2002.Obstetri dan Ginekologi.Jakarta: Widya Medika
• Taber,Ben-zion.1994.Kapita Selecta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC
• WHO.2002.Modul Sepsis Puerperalis.Jakarta:EGC

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.