ibu bersalin

All posts tagged ibu bersalin

KEBUTUHAN IBU BERSALIN

Published 10 Desember 2012 by Midwife Rizqi Dyan

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Persalinan atau melahirkan anak adalah suatu peristiwa yang sangat besar artinya, sebab sangat mendalam kesannya.Mengapa demikian, karena melahirkan berarti mengadakan yang semula belum ada.Begitu pula dengan persalinan yang berarti melahirkan anak yang telah lama ditunggu kedatangannya.

Lahirnya anak tidak akan datingbegitu saja, tetapi memerlukan persiapan-persiapan seperti persiapan fisik, persiapan mental, dsan persiapan materi yang cukup agar kelahiran anak dapat berjalan dengan lancar serta menghasilkan ibu dan anak yang sehat. Dalam proses persalinan ibu banyak mengeluarkan tenaga sehingga untuk mengahasilkan tenaga ibu yang akan melahirkan serta membukanya jalan untuk lahirnya anak, terjadilah rasa sakit yang makin lama makin bertambah kuat sampai saat anak lahir bahkan sampai beberapa waktu setelah melahirkan anaknya. Disinilah pentingnya persiapan untuk mengimbangi apa yang akan terjadi dalam proses melahirkan anak atau persalinan itu.

Perawatan persalinan di negara maju dan di kota-kota besar lazim dilaksanakan dirumah sakit sehingga pengalaman siswa bidan/keperawatan biasanya terbatas hanya pada pengamatan kelahiran bayi dilingkungan rumah sakit. Hanya dikota-kota kecil dan didaerah pedesaan, perawatan persalinan dilaksanakan di rumah atau pada rumah bersalin.

Pemberian pelayanan selama persalinan, yaitu bidan dan dokter, memiliki sikap dan cara pendekatan berbeda-beda terhadap kelahiran bayi. Antara rumah sakit yang satu dan yang lainnya terdapat berbagai kebiasaan serta pelaksanaan yang beraneka ragam; keanekaragaman ini bahkan terdapat pula antara kamar bersalin yang satu dan lainnya dalam rumah sakit besar yang sama.

 

1.2              Rumusan masalah

Apa saja kebutuhan ibu bersalin kala I, II, III, dan IV ?

1.3              Tujuan Umum

Memahami kebutuhan ibu bersalin kala I, II, III, dan IV.

 

 

1.4              Tujuan Khusus

1.4.1        Mahasiswa mampu memahami teori kebutuhan ibu brsalin kala I, II, III, dan IV.

1.4.2        Mahasiswa mampu menjelaskan teori kebutuhan ibu bersalin pada kala I, II, III, dan IV

1.5              Manfaat

1.5.1        Dengan disusunnya makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa tentang kebutuhan ibu bersalin pada kala I, II, III, dan IV

1.5.2     Dengan disusunnya makalah ini dapat digunakan sebagai pedoman pemberian asuhan pada ibu bersalin pada kala I, II, III, dan IV.

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1       Konsep Teori

Persalinan adalah proses di mana bayi, plasenta, selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah kehamilan 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (Winknjosastro, 2008, Hlm.37). Helen Varney mengatakan persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Varney,H, 2007, Hlm. 672). Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan, lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2006, Hlm.100). Tanda-tanda persalinan yaitu rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur, keluar darah lendir yang banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks, terkadang ketuban pecah dengan sendirinya, pada pemeriksaan dalam didapat serviks yang mendatar dan pembukaan jalan sudah ada (Yeyeh, Ai, 2009, Hlm. 9).

Proses dinamik dari persalinan meliputi empat komponen yang saling berkaitan yang mempengaruhi baik mulainya dan kemajuan persalinan. Empat komponen ini adalah passanger (janin), passage (pelvis ibu), power (kontraksi uterus), dan Psikis (status emosi ibu). Bila persalinan dimulai, interaksi antara passanger, passage, power, dan psikis harus sinkron untuk terjadinya kelahiran pervaginam spontan (Wlash, linda, 2007, Hlm.300).

Banyak orang berpendapat bahwa persalinan adalah saat yang menegangkan dan menggugah emosi ibu dan keluarganya, bahkan dapat menjadi saat yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Untuk meringankan kondisi tersebut, pastikan bahwa setiap ibu akan mendapatkan asuhan saying ibu selama persalinan dan kelahiran. Kebutuhan dasar pada ibu bersalin di kala I, II dan III itu berbeda-beda dan sebagai tenaga kesehatan kita dapat memberikan asuhan secara tepat agar kebutuhan – kebutuhan ibu di kala I, II, dan III dapat terpenuhi.

Pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologispada ibu dan keluarga pada kala I, II, dan III dan IV sebagai berikut :

 

2.2       Pemenuhan kebutuhan fisik pada ibu bersalin kala I, II,III dan IV

2.2.1    Kala I

Kala I merupakan waktu di mulainya persalinan, keadaan ini di mulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). kebutuhan-kebutuhan yang harus terpenuhi di kala I antara lain:

2.2.1.1 Mengatur aktivitas dan posisi ibu

Disaat mulainya persalianan sambil menunggu pembukaan lengkap.Ibu masih dapat diperbolehkan melakukan aktivitas, namun harus sesuai dengan kesanggupan ibu agar ibu tidak terasa jenuh dan rasa kecemasan yang dihadapi oleh ibu saat menjelang persalinan dapat berkurang.Di dalam kala I ini ibu dapat mencoba berbagai posisi yang nyaman selama persalinan dan kelahiran. Peran suami di sisi adalah untuk  membantu ibu berganti posisi yang nyaman agar ibu merasa ada orang yang menemani di saat proses menjelang persalinan. Disini ibu di perbolehkan berjalan, berdiri, duduk, jongkok, berbaring miring atau merangkak.Posisi tegak seperti berjalan, berdiri atau jongkok dapat membantu turunnya kepala bayi dan seringkali mempersingkat waktu persalnan.Untuk itu kita sebagai tenaga kesehatan di sarankan agar membantu ibu untuk sesering mungkin berganti posisi selama persalina.Perlu di ingat bahwa jangan menganjurkan ibu untuk mengambil posisi terlentang. Sebab jika ibu berbaring terlentang maka berat uterus, janin, cairan ketuban, dan plasenta akan menekan vena cava inferior. Hal ini akan menyebabkan turunnya aliran darah dari sirkulasi ibu ke plasenta. Kondisi seperti ini akan menyebabkan hipoksia (kekurangan oksigen pada janin). Posisi terlentang juga akan memeperlambat proses persalinan.( Enkin, et,al. 2002)

2.2.1.2   Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his

His merupakan kontraksi pada uterus yang mana his ini termasuk tanda-tanda persalinan yang mempunyai sifat intermitten, terasa sakit, terkoordinasi, dan simetris serta terkadang dapat dipengaruhi dari luar secara fisik dan psikis. Karena his sifatnya menimbulkan rasa sakit, maka ibu di sarankan menarik nafas panjang dan kemudian anjurkan ibu untuk menahan nafas sebentar, kemudian dilepaskan dengan cara meniup sewaktu ada his.

2.2.1.3   Menjaga kebersihan ibu

Saat persalinan akan berlangsung anjurkan ibu untuk mengososngkan kandung kemihnya secara rutin selama persalinan. Disini ibu harus berkemih paling sedikit setiap 2 jam atau lebih atau jika ibu terasa ingin berkemih. Selain itu, tenaga kesehatan perlu memeriksa kandung kemih pada saat memeriksa denyut jantung janin (saat palpasi di lakukan) tepat di atas simpisis pubis untuk mengetahui apakah kandung kemih penuh atau tidak.Jika ibu tidak dapat berkemih di kamar mandi, maka ibu dapat diberikan penampung urin. Apabila terjadi kandung kemih yang penuh maka akan mengakibatkan:

  1. Memperlambat turunnya bagian terbawah janin danmungkinakna menyebabkan partus macet.
  2. Menyebabkan ibu tidak nyaman.
  3. Meningkatkan risiko perdarahan pasca persalinan yang disebabkan atonia uteri.
  4. Mengganggu penatalaksanaan distosis bahu.
  5. Meningkatkan risiko infeksi saluran kemih pasca persalinan.

Disaat persalinan berlangsung tenaga kesehatan (bidan) tidak dianjurkan untuk melakukan kateterisasi kandung kemih secara rutin.Sebab kateterisasi ini hanya di lakukan pada kandung kemih yang penuh dan ibu tidak dapat berkemih sendiri. Kateterisasi ini akan menimbulkan beberapa masalah seperti menimbulkan rasa sakit, menimbulkan risiko infeksi dan perlukaan melalui kemih ibu.

2.2.1.4   Pemberian Cairan dan Nutrisi

Tindakan kita sebagai tenaga kesehatan yaitu memastikan ibu untuk mendapat asupan (makanan ringan dan minum air) selama persalinan dan kelahiran bayi.Karena fase aktif ibu hanya ingin mengkonsumsi cairan. Maka bidan menganjurkan anggota keluarga untuk menawarkan ibu minum sesering mungkin dan makan ringan selama persalinan , karena makanan ringan dan cairan yang cukup selama persalinan berlangsung akan memberikan lebh banyak energi dan mencegah dehidrasi. Dehidrasi ini bila terjadi akan memperlambat kontraksi atau membuat kontraksi menjadi tidak teratur.

Wanita bersalin membutuhkan kurang lebih 50-100 kilokalori energi setiap jam, dan jika tidak terpenuhi, mereka akan mengalami kelelahan otot dan kelaparan yang sangat. Jika glukosa tidak tersedia, cadangan lemak digunakan sehingga menyebabkan ketosis dan pada akhirnya terjadi ketonuria. Aktifitas uterus dapat menurun akibat akumulasi benda keton. Efek lain ketosis ringan selama persalinan tidak diketahui. Cairan IV bukan pengganti yang adekuat untuk asupan oral (cairan tersebut sering kali tidak adekuat dalam satuan kilokalori;  satu liter dekstrosa 5% dalam air [ D5W] atau salin normal mengandng 225 kilokalori). Kelebihan beban cairan pada ibu, hiponatremia, penurunan mortalitas, hemodilusi, dan asidosis laktik, juga hiperglikemia neonatus, hiperinsulinemia dengan hipoglikemia, hiponatremia, asidosis, ikterus dan/atau takipnea sementara dapat terjadi. Sepuluh persen glukosa harus dihindari.

2.2.1.5   Kontak fisik

Si ibu mungkin tidak ingin bercakap – cakap tetapi ia mungkin akan merasa nyaman dengan kontak fisik. Partnernya hendaknya didorong untuk mau berpegangan tangandengannya, menggosok punggungnya, menyeka wajahnya dengan spons atau mungkin hanya mendekapnya. Sebagian pasangan suami istri mungkin ingin mempraktekkan dimana partnernya mengelus – elus perut dan paha wanita atautehnik – tehnik lain yang serupa. Mereka yang menginginkan kelahiran yang aktif bisa mencoba stimulasi puting dan klitoris untuk mendorong pelepasan oksitosin dari kelenjar pituitary dan dengan demikian merangsang kontraksi uterus secara alamiah. Hal ini juga akan merangsang produksi endogenous opiates, yang memberikan

sedikit analgesia alamiah.

2.2.1.6   Pijatan

Wanita yang menderita sakit punggung atau nyeri selama persalinan mungkin akan merasakan pijatan sangat meringankan. Sebagian wanita mungkin akan merasakan pijatan pada abdominal menyenangkan; elusan ringan diatas seluruh perut emang bisa terasa enak, dengan menggunakan kedua tangan dan melakukan ujung jari menyentuh daerah symphysis pubis, melintas diatas fundus uterus dan kemudian turun ke kedua sisi perut.

2.2.1.7 Tanda bahaya kala I

1. kematian ibu atau kematian bayi atau keduanya

2. ruptura uteri

3. infeksi / sepsis puerperal

4. perdarahan postpartum

5. fistel

2.2.2    Kala II

Persalinan kala II merupakan salah satu dari serangkaian tahap persalinan, di mana pada tahap ini dimulai saat pembukaan serviks lengkap dan berakhir dengan lahirnya seluruh tubuh janin. Lamanya kala dua adalah 50 menit untuk primigravida dan 30 menit untuk multigravida.

Kala II persalinan akan mengakibatkan suhu tubuh ibu meningkat dan saat ibu mengejan selama kontraksi dapat membuat ibu menjadi kelelahan. Disini bidan harus dapat memenuhi kebutuhan selama kala II, diantaranya:

2.2.2.1 Asuhan sayang ibu

  1. 1.      Konsep Asuhan Sayang Ibu

Konsep asuhan sayang ibu menurut Pusdiknakes, 2003 adalah sebagai berikut:

a.       Asuhan yang aman berdasarkan evidence based dan ikut meningkatkan kelangsungan hidup ibu. Pemberian asuhan harus saling menghargai budaya, kepercayaan, menjaga privasi, memenuhi kebutuhan dan keinginan ibu.

b.      Asuhan sayang ibu memberikan rasa nyaman dan aman selama proses persalinan, menghargai kebiasaan budaya, praktik keagamaan dan kepercayaan dengan melibatkan ibu dan keluarga dalam pengambilan keputusan.

c.       Asuhan sayang ibu menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah dan tidak perlu intervensi tanpa adanya komplikasi.

d.      Asuhan sayang ibu berpusat pada ibu, bukan pada petugaskesehatan.

e.       Asuhan sayang ibu menjamin ibu dan keluarganya dengan memberitahu tentang apa yang terjadi dan apa yang bisa diharapkan.

2.     Ada 10 Langkah Asuhan Sayang Ibu

a.       Menawarkan adanya pendampingan saat melahirkan untuk mendapatkan dukungan emosional dan fisik secara berkesinambungan.

b.      Memberi informasi mengenai praktek kebidanan, termasuk intervensi dan hasil asuhan.

c.       Memberi asuhan yang peka dan responsif dengan kepercayaan, nilai dan adat istiadat.

d.      Memberikan kebebasan bagi ibu yang akan bersalin untuk memilih posisi persalinan yang nyaman bagi ibu.

e.       Merumuskan kebijakan dan prosedur yang jelas untuk pemberian asuhan yang berkesinambungan.

f.       Tidak rutin menggunakan praktek dan prosedur yang tidak didukung oleh penelitian ilmiah tentang manfaatnya, seperti: pencukuran, enema, pemberian cairan intervena, menunda kebutuhan gizi, merobek selaput ketuban, pemantauan janin secara elektronik.

g.      Mengajarkan pada pemberi asuhan dalam metode meringankan rasa nyeri dengan/ tanpa obat-obatan.

h.      Mendorong semua ibu untuk memberi ASI dan mengasuh bayinya secara mandiri.

i.        Menganjurkan tidak menyunat bayi baru lahir jika bukan karena kewajiban agama.

j.        Berupaya untuk mempromosikan pemberian ASI dengan baik.

3.     Prinsip Umum Sayang Ibu

a.        Memahami bahwa kelahiran merupakan proses alami dan fisiologis.

b.        Menggunakan cara-cara yang sederhana dan tidak melakukan intervensi tanpa ada indikasi.

c.        Memberikan rasa aman, berdasarkan fakta dan memberi kontribusi pada keselamatan jiwa ibu.

d.        Asuhan yang diberikan berpusat pada ibu.

e.         Menjaga privasi serta kerahasiaan ibu.

f.          Membantu ibu agar merasa aman, nyaman dan didukung secara emosional.

g.        Memastikan ibu mendapat informasi, penjelasan dan konseling yang cukup.

h.        Mendukung ibu dan keluarga untuk berperan aktif dalam pengambilan keputusan.

i.          Menghormati praktek-praktek adat dan keyakinan agama.

j.          Memantau kesejahteraan fisik, psikologis, spiritual dan sosial ibu/ keluarganya selama kehamilan, persalinan dan nifas.

k.        Memfokuskan perhatian pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.

4.   Asuhan Sayang Ibu dalam Proses Persalinan Antara Lain

a.          Memanggil ibu sesuai nama panggilan sehingga akan ada perasaan dekat dengan bidan.

b.         Meminta ijin dan menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan bidan dalam pemberian asuhan.

c.          Bidan memberikan penjelasan tentang gambaran proses persalinan yang akan dihadapi ibu dan keluarga.

d.         Memberikan informasi dan menjawab pertanyaan dari ibu dan keluarga sehubungan dengan proses persalinan.

2.2.2.2   Menjaga kandung kemih tetap kosong

Menganjurkan ibu untuk berkemih sesrinh mungkin setiap 2 jam atau bila ibu merasa kandung kemih sudah penuh. Kandung kemih dapat menghalangi penurunan kepala janin ke dalam rongga panggul.Jika ibu tidak dapat berjalan ke kamar mandi bantulah agar ibu dapat berkemih dengan wadah penampung urine.Disini bidan tidak dianjurkan untuk melakukan keteterisasi kandung kemih secara rutin sebelum atau sesudah kelahiran bayi ataupun plasenta.Kateterisasi kandung kemih hanya di lakukan bila terjadi retensi urin dan ibu tidak mampu berkemih sendir karena kateterisasi akan mengakibatkan risiko infeksi dan trauma atau perlukaan pada saluran kemih ibu.

2.2.2.3   Menjaga kebersihan ibu

Disini ibu tetap dijaga kebersihan dirinya agar terhindar dari infeksi.Apabila ada lendir darah atau cairan ketuban segera di bersihkan untuk menjaga alat genetalia ibu.

2.2.2.4   Pemberian cairan dan nutrisi

Menganjurkan ibu untuk minum selama kala II persalinan. Ini dianjurkan karena selama ibu bersalin ibu mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Dengan cukupnya asupan cairan, ini dapat mencegah ibu mengalami dehidrasi.

Wanita bersalin membutuhkan kurang lebih 50-100 kilokalori energi setiap jam, dan jika tidak terpenuhi, mereka akan mengalami kelelahan otot dan kelaparan yang sangat. Jika glukosa tidak tersedia, cadangan lemak digunakan sehingga menyebabkan ketosis dan pada akhirnya terjadi ketonuria. Aktifitas uterus dapat menurun akibat akumulasi benda keton. Efek lain ketosis ringan selama persalinan tidak diketahui. Cairan IV bukan pengganti yang adekuat untuk asupan oral (cairan tersebut sering kali tidak adekuat dalam satuan kilokalori;  satu liter dekstrosa 5% dalam air [ D5W] atau salin normal mengandng 225 kilokalori). Kelebihan beban cairan pada ibu, hiponatremia, penurunan mortalitas, hemodilusi, dan asidosis laktik, juga hiperglikemia neonatus, hiperinsulinemia dengan hipoglikemia, hiponatremia, asidosis, ikterus dan/atau takipnea sementara dapat terjadi. Sepuluh persen glukosa harus dihindari.

2.2.2.5   Mengatur posisi ibu

Didalam memimpin mengejan, Bantu ibu memperoleh posisi yang paling nyaman.Ibu dapat berganti posisi secara teratur selama kala dua persalinan.Karena perpindahan posisi yang sering kali mempercepat kemajuan persalinan. Disini ibu akan menemukan posisi yang efektif untuk meneran. Biasanya posisi duduk atau setengah duduk dipilih ibu bersalin karena nyaman bagi ibu dan ibu bisa beristirahat dengan mudah diantara kontraksi jika merasa lelah dan keuntungan lain posisi ini yaitu dapat memudahkan melahirkan kepala bayi. Ada 4 posisi yang sering digunakan dalam persalinan, diantaranya :

1. Posisi berbaring atau litotomi.

Ibu berbaring telentang di tempat tidur bersalin dengan menggantung kedua pahanya pada penopang kursi khusus untuk bersalin. Kelebihan posisi ini, dokter bisa lebih leluasa membantu proses persalinan karena jalan lahir pun menghadap ke depan, sehingga dokter dapat lebih mudah mengukur perkembangan pembukaan dan waktu persalinan pun diprediksi secara lebih akurat. Kelemahannya, posisi berbaring membuat ibu sulit mengejan.

2. Posisi miring atau lateral.

Ibu berbaring miring ke kiri atau ke kanan dengan salah satu kaki diangkat, sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus.Kelebihannya, peredaran darah balik ibu bisa mengalir lancar, pengiriman oksigen dalam darah dari ibu ke janin melalui plasenta juga tidak terganggu. Kelemahannya, posisi miring ini menyulitkan dokter untuk membantu proses persalinan karena letak kepala bayi susah dimonitor dan dipegang, maupun diarahkan.

3. Posisi jongkok.

Ibu berjongkok di atas bantalan empuk yang berguna untuk menahan kepala dan tubuh bayi. Kelebihan, merupakan posisi melahirkan yang alami karena memanfaatkan gaya gravitasi bumi, sehingga ibu tidak usah terlalu kuat mengejan. Kekurangannya, berpeluang membuat cedera kepala bayi, posisi ini dinilai kurang menguntungkan karena menyulitkan pemantauan perkembangan pembukaan dan tindakan-tindakan persalinan lainnya, semisal episiotomi.

4. Posisi setengah duduk.

Pada posisi ini, ibu duduk dengan punggung bersandar bantal, kaki ditekuk dan paha dibuka ke arah samping.Posisi ini cukup membuat ibu nyaman.Kelebihannya, sumbu jalan lahir yang perlu ditempuh janin untuk bisa keluar jadi lebih pendek.Suplai oksigen dari ibu ke janin pun dapat berlangsung secara maksimal.Kelemahannya, posisi ini dapat menimbulkan rasa lelah dan keluhan punggung pegal. Apalagi jika proses persalinan tersebut berlangsung lama

Posisi jongkok atau berdiri dapat membantu mempercepat kemajuan persalinan kala dua dan posisi jongkok juga akan mengurangi rasa nyeri yang hebat. Sedangkan posisi merangkak atau berbaring miring ke kiri dipilih ibu karena ibu merasa nyaman dan lebih efektif baginya untuk meneran. Posisi ini baik dipilih jika ada masalah bagi bayi yang akan berputar ke posisi occiput anterior. Posisi merangkak atau berbaring miring kekiri ini juga baik dipilih ibu yang mengalami nyeri punggung pada saat persalinan.Posisi ini juga membantu mencegah laserasi.

Adapun cara-cara meneran yang baik bagi ibu diantaranya :

  1. Menganjurkan ibu untuk meneran sesuai dorongan alamiah selama kontraksi.
  2. Jangan anjurkan ibu untuk menahan nafas pada saat meneran.
  3. Menganjurkan ibu untuk berhenti meneran dan beristirahat diantara kontraksi.
  4. Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk ibu mungkin merasa lebih mudah untuk meneran, jika ia menarik lutut kea rah dada dan menempelkan dagu ke dada.
  5. Menganjurkan ibu untuk tidak mengangkat pantat saat meneran.
  6. Tenaga kesehatan ( bidan ) tidak dianjurkan untuk melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran bayi karena dorongan pada fundus dapat meningkatkan distosia bahu dan rupture uteri.

2.2.3    Kala III

Kala III merupakan kala pengeluaran uri atau pengeluaran plasenta.Kala III ini merupakan kelanjutan kala I (kala pembukaan) dank ala II (kala pengeluaran bayi). Untuk itu pada kala III ini berbagai aspek yang akandihadapi bercermin pada apa yang telah dikerjakan pada tahap-tahap sebelumnya. Adapun pemenuhan kebutuhan pada ibu dikala III diantaranya :

2.2.3.1   Menjaga kebersihan

Disini ibu harus tetap dijaga kebersihan pada daerah vulva karena untuk menghindari infeksi.Untuk menghindari infeksi dan bersarangnya bakteri pada daerah vulva dan perineum.Cara pembersihan perineum dan vulva yaitu dengan menggunakan air matang (disinfeksi tingkat tinggi) dan dengan menggunakan kapas atau kassa yang bersih.Usapkan dari atas ke bawah mulai dari bagian anterior vulva kea rah rectum untuk mencegah kontaminasi tinja, kemudian menganjurkan ibu untuk mengganti pembalut kurang lebih dalam sehari tiga kali ataupunbila saat ibu BAK dirasa pembalut sudah basah (tidak mungkin untuk dipakai lagi).Jangan lupa menganjurkan ibu untuk mengeringkan bagian perineum dan vulva.

2.2.3.2   Pemberian cairan dan nutrisi

Memberikan asupan nutrisi  (makanan ringan dan minuman) setelah persalinan, karena ibu telah banyak mengeluarkan tenaga selama kelahiran bayi. Dengan pemenuhan asupan nutrisi ini diharapkan agar ibu tidak kehilangan energi.

Wanita bersalin membutuhkan kurang lebih 50-100 kilokalori energi setiap jam, dan jika tidak terpenuhi, mereka akan mengalami kelelahan otot dan kelaparan yang sangat. Jika glukosa tidak tersedia, cadangan lemak digunakan sehingga menyebabkan ketosis dan pada akhirnya terjadi ketonuria. Aktifitas uterus dapat menurun akibat akumulasi benda keton. Efek lain ketosis ringan selama persalinan tidak diketahui. Cairan IV bukan pengganti yang adekuat untuk asupan oral (cairan tersebut sering kali tidak adekuat dalam satuan kilokalori;  satu liter dekstrosa 5% dalam air [ D5W] atau salin normal mengandng 225 kilokalori). Kelebihan beban cairan pada ibu, hiponatremia, penurunan mortalitas, hemodilusi, dan asidosis laktik, juga hiperglikemia neonatus, hiperinsulinemia dengan hipoglikemia, hiponatremia, asidosis, ikterus dan/atau takipnea sementara dapat terjadi. Sepuluh persen glukosa harus dihindari.

 

2.2.3.3  Kebutuhan istirahat

Setelah janin dan plasenta lahir kemudian ibu sudah dibersihkan ibu dianjurkan untuk istirahat setelah pengeluaran tenagayang banyak pada saat persalinan.Disini pola istirahat ibu dapatmembantu mengembalikan alat-alat reproduksi danmeminimalisasikan trauma pada saat persalinan.

2.2.4        Kala IV

Yaitu 0 menit sampai 2 jam setelah persalinan plasenta berlangsung. Ini merupakan masa kritis bagi ibu, karena kebanyakan wanita melahirkan kehabisan darah atau mengalami suatu keadaan yang menyebabkan kematian pada kala IV ini. Bidan harus terus dapat memenuhi kebutuhan ibu sampai masa kritis ibu telah terlewati. Berikut merupakan kebutuhan ibu bersalin kala IV :

  1. Hidrasi dan nutrisi
  2. Bimbingan spiritual
  3. Ibu tetap didampingi setelah bayi lahir
  4. Kebersihan tetap dijaga untuk mencegah infeksi
  5. Pengawasan kala IV
  6. Istirahat
  7. Memulai menyusui
  8. Membantu ibu ke kamar mandi
  9. Biarkan bayi berada dekat ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi untuk mempercepat pemberian asi / kolostum
  10. Menjelaskan pada ibu dan keluarga tentang tanda – tanda bahaya kala IV

2.3       Pemenuhan kebutuhan psikologis ibu bersalin kala I, II, III dan IV

Untuk mengurangi rasa sakit terhadap ibu di kala I, II,III dan IV yaitu dengan cara psikologis dengan mengurangi perhatian ibu yang penuh terhadap rasa sakit. Adapun usaha-usaha yang dilakukannya yaitu dengan cara:

2.3.1    Sugesti

Sugesti adalah memberi pengaruh pada ibu dengan pemikiran yang diterima secara logis. Menurut psikologis social individu yang keadaan psikisnya labil akan lebih mudah dipengaruh dan mudah mendapar sugesti. Demikian juga pada wanita yang keadaan psikisnya kurang stabil, lebih-lebih dalam masa persalinan, mudah sekali menerima pengaruh atau menerima sugesti.Kesempatan ini harus digunakan untuk memberikan sugesti yang bersifat positif. Misalnya ketika hamil, pada waktu memeriksa dikatakan bahwa kehamilan normal, persalinan nanti akan berjaln normal pula. Pada waktu persalinan pun juga diberi sugesti bahwa persalinannya akan belangsung dengan bak seperti ibu-ibu yang lain yang tidak mengalami kesulitan walaupun telah beberapa kali melahirkan. Keramah-tamahan dan sikap yang menyenangkan akan menambah besarnya sugesti yang telah diberikan.

2.3.2    Mengalihkan perhatian

Perasaan sakit akan bertambah bila perhatian dikhususkan pada rasa sakit itu. Misalnya ibu merasa sakit, penolong memperhatikan terus-menerus, menaruh belas kasihan yang spontan akan menambah rasa sakit. Perasaan sakit itu dapat dikurangi dengan mengurangi perhatian terhadap ibu.Usaha yang di lakukan misalnya mengajak bercerita, sedikit bersenda gurau, kalau ibu masih kuat berilah buku bacaan yang menarik.Walaupun perhatian terhadap rasa sakit ibu di kurangi oleh bidan, tetapi mereka haruis tetap waspada mengamati keadaan ibu, pekembangan persalinan.

2.3.3    Kepercayan

Diusahakan agar ibu memiliki kepercayaan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu melahirkan anak normal seperti wanita-wanita lannya,percaya bahwa persalinan yang dihadapi akan lancer pula seperti wanita yang lainnya. Disamping itu ibu harus mempunyai kepercayaan pada bida atau orang yang menolongnya, percaya bahwa penolong mempunyai pengetahuan dasar yang cukup, mempunyai pengalaman yang banyak, mempunyai kecepatan, keterampilan dalam menolong persalinan, maka dengan demikian ibu akan merasa aman.

Demikianlah usaha-usah yang bersifat psikologis dari penolong untuk mengurangi rasa sakit.

 

 

BAB 3

PENUTUP

3.1       Kesimpulan

3.1.1    Pemenuhan pada kala I meliputi : mengatur aktifitas dan posisi ibu, membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his, menjaga kebersihan ibu, memberikan cairan dan nutrisi pada ibu.

3.1.2    Pemenuhan kebutuhan pada kala II meliputi menjaga kebersihan diri, pemberian cairan, menjaga kandung kemih yang kosong dan mengatur posisi ibu.

3.1.3    Pemenuhan kebutuhan pada kala III meliputi pemenuhan cairan dan nutrisi, menjaga kebersihan , dan kebutuhan istirahat.

3.1.4        Pemenuhan kebutuhan pada kala II meliputi Hidrasi dan nutrisi, bimbingan spiritual, ibu tetap didampingi setelah bayi lahir, kebersihan tetap dijaga untuk mencegah infeksi, pengawasan kala IV, istirahat, memulai menyusui, membantu ibu ke kamar mandi, biarkan bayi berada dekat ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi untuk mempercepat pemberian asi / kolostum

3.1.5    Pemenuhan kebutuhan psikologis pada ibu di kala I, II, dan III yaitu pemberian sugesti, mengalihkan perhatian dan kepercayaan.

3.2       Saran

3.2.1    Bagi pembaca semoga makalah ini dapat dijadikan sumber referensi dan tambahan pengetahuan.

3.2.2    Bagi penulis untuk meningkatkan kualitas dalam penulisan makalah

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.